Masa-masa transisi dari seorang siswa menjadi mahasiswa adalah masa yang penuh kejutan sekaligus menegangkan karena menghadapkan kita pada berbagai perbedaan. Dari namanya saja jelas sudah berbeda, segala sesuatu yang berimbuhan kata maha maka menjadi sesuatu yang ‘lebih tinggi’ dan ‘lebih terhormat’. Disebut lebih tinggi karena dari jenjang pendidikan, seseorang yang disebut mahasiswa maka sudah pasti duduk di sebuah universitas. Begitupun disebut lebih terhormat karena tidak semua siswa memiliki kesempatan untuk mengganti gelarnya menjadi seseorang yang maha. Tentu, untuk mencapai yang lebih-lebih tersebut (lebih tinggi, lebih terhormat, lebih pintar, lebih gaya, lebih bebas, dll), seorang siswa hendaknya membutuhkan usaha untuk mempertahankan gelar maha-nya.
Pengalaman setiap mahasiswa yang saya temui di berbagai universitas, termasuk di UNPAR pun berbeda-beda. Ada yang sejak awal merasa kesulitan untuk beradaptasi dengan gelar maha-nya tersebut, ada pula yang santai-santai saja tapi mereka bisa bertahan menjadi mahasiswa yang baik bahkan yang terbaik. Banyak hal menarik juga yang saya sendiri temukan sejak masa OSPEK maupun pasca OSPEK. Tidak sedikit mahasiswa yang semangat pada waktu OSPEK lantas hilang pada semester berikutnya, menjadi korban dropped out atau megundurkan diri. Ataupun sebaliknya, mahasiswa yang tidak mengikuti OSPEK tapi lantas setahun kemudian sibuk menjadi anggota himpunan dan aktif di kampus. Adapun mahasiswa yang sama sekali acuh dengan kegiatan kampus, tetapi pada akhirnya ia lulus dengan predikat magna cum laude. Lantas, saya pun jadi bertanya-tanya bagaimanakah figur ideal seorang mahasiswa? Yang lebih jago beradaptasi dengan lingkungan kampus atau yang lebih jago menjawab pertanyaan yang diajukan oleh dosen pada waktu UAS?
Butuh waktu panjang untuk menemukan jawabannya. Pertama, ada beberapa standard yang harus dipenuhi oleh seorang mahasiswa. Yaitu, mahasiswa harus memaksimalkan kemampuan calistung (baca, tulis, dan hitung). Yang beda dari calistung mahasiswa dengan calistung siswa SD adalah seorang mahasiswa setidaknya harus membaca empat puluh halaman buku per minggu, menghasilkan tulisan-tulisan akademik yang berkualitas, dan mahasiswa bertindak berdasarkan perhitungan yang rasional. Ketiga hal tersebut akan sangat mempengaruhi performa mahasiswa di kelas. Kedua, mahasiswa dituntut untuk kritis dan mampu berargumen. Hal ini berlaku untuk semua mahasiswa, bukan hanya untuk mahasiswa FISIP atau Fakultas Hukum. Terkadang kita masih terlena dengan budaya text-book jaman SMA, tapi sayang sekali hal itu tidak akan berguna di universitas. Mahasiswa diharapkan mau untuk menjadikan koran dan media lainnya sebagai suplemen harian mereka. Terakhir, mahasiswa dituntut untuk aktif. Sebagian dari mahasiswa, ada yang pernah menjabat sebagai aktifis sekolah waktu di SMA nya dulu dan ingin pensiun di masa kuliah. Sangat disayangkan, kesempatan untuk meraih apapun jauh lebih terbuka di tingkat universitas. Baik itu beasiswa, konferensi-konferensi, kerja praktek, semuanya akan sangat menguntungkan apabila mahasiswa mau memanfaatkan kesempatan itu.
Hal-hal (tuntutan,red.) yang saya sebutkan sebelumnya memang sekilas terdengar sulit tapi menyenangkan terutama untuk para mahasiswa baru. Tapi ternyata untuk memenuhi standard tersebut, mahasiswa pun harus menghadapi banyak tantangan. Yang paling mendasar adalah rasa malas. Seringkali rasa malas ini muncul karena warisan jaman SMA, atau mungkin bawaan orok. Saya menemukan sedikit dari teman-teman saya di HI yang memang pemalas, jumlahnya tidak banyak. Kembali lagi pada niatnya, berniat untuk meraih gelar S1, maka harus mau berjuang melawan rasa malas! Mahasiswa punya energi! Saya yakin yang malas mana mungkin masuk UNPAR!
Tantangan yang kedua adalah, godaan kerja part-time dan money oriented minded . Kuliah di waktu tertentu memang membosankan, dan sekilas yang ada di luar kampus lebih menarik apalagi yang menghasilkan uang. Pemikiran ini sangatlah wajar muncul di kalangan mahasiswa, tapi yang paling penting adalah tentukan prioritas, dan jangan sampai kehilangan arah! Tetapkan bahwa your job is as a college student and your side job is ….. bebas pilih. Yang ketiga, mahasiswa S1 atau D3 adalah mahasiswa yang masih membentuk jati diri. Saya lebih suka menyebut mahasiswa sebagai ‘manusia setengah jadi’. Mahasiswa adalah manusia yang masih lentur. Sehingga pembentukan kepribadian seseorang akan lebih ditentukan dalam hubungan sosial di kampus dan luar kampus, bukan ketika menjalani masa ABG atau menjalani kehidupan di masa sekolah. Seorang mahasiswa yang berpendirian, adalah seseorang yang tidak mudah terbawa arus dan mampu menentukan arah hidupnya.
Mahasiswa mengemban tugas yang banyak dan tantangan yang berat. Mahasiswa adalah orang sibuk bak selebritis, yang memiliki segudang kegiatan. Tidak perlu menjadi seorang mahasiswa yang ideal, tapi jadilah mahasiswa yang sukses. Seorang mahasiswa yang sukses tau bagaimana cara menikmati setiap masa, dan tau kemana harus memanfaatkan energinya!
Cherika Novianti untuk majalah Highlights terbitan UNPAR – Agustus 2008

