Mengapa Batik?
Pertanyaan ini kerapkali diajukan pada saya oleh teman-teman terdekat yang baru saja mengetahui bahwa kini saya menjerumuskan diri ke dunia fashion yang mengangkat batik sebagai material utamanya. Batik bukanlah sesuatu yang baru saja kita kenal dalam industri pakaian. Usia kain batik sudah ratusan tahun bahkan lebih.
Namun lagi-lagi, mengapa ‘sekarang’ pakai batik? Kurang lebih dua tahun yang lalu, batik menjadi bagian dari trend busana Indonesia. Batik telah berubah dari yang asalnya hanya digunakan sebagai pakaian resmi acara kenegaraan atau versi murahnya dikenakan oleh ibu-ibu untuk tidur, masak dan cuci piring di dapur; kini batik menjadi bagian dari mode. Beberapa desainer Indonesiapun mencoba mengolah batik menjadi pakaian yang ‘in’. Mereka mengolah batik untuk tidak hanya sekedar dijadikan kain sarung untuk dipadukan dengan kebaya, tetapi batik pun bisa menjadi baju atasan, rok, celana pendek, dan banyak variasi-variasi lainnya. Desainer-desainer ini telah membuat batik jadi terlihat sangat cantik, tetapi juga menjadi sesuatu yang ‘mahal’. Sepotong terusan rok batik, harganya bisa mencapai ratusan ribu bahkan jutaan rupiah. Mengapa harganya begitu mahal? Tentu saja ketika sehelai kain sudah berada di tangan seorang desainer, nilai jualnya menjadi tinggi. Kita tidak pernah tau berapa pendapatan pengrajin batik dari sehelai kain yang dijual jutaan rupiah di mall-mall besar atau di butik-butik mahal. Kita pun sulit untuk menebak apakah batik yang dijual tersebut benar-benar produk Indonesia, atau jangan-jangan batik itu buatan negara lain!
Bagi orang-orang awam, terkadang sulit menemukan perbedaan antara batik yang murah dan yang mahal. Ah, sepertinya sama saja, tergantung yang memakainya. Yang benar adalah, pertama, mahal dan murahnya batik ditentukan dari bahan yang dijadikan dasar dari pembuatan batik itu sendiri. Apakah kain itu terbuat dari bahan dasar sutra, katun, tenun, dan masih banyak lagi. Kedua, teknik pembuatan batik pun menjadi faktor yang menentukan harga batik tersebut. Apakah itu batik tulis, kombinasi tulis dan cap, cap, ataupun print. Jelas, tingkat kesulitan pembuatan batik tulis dan print tentu berbeda. Semakin sulit pembuatan sepotong kain batik, tentu semakin mahal harganya.
Nah sekarang kembali lagi..mengapa batik? Bagi saya, batik adalah karya seni Indonesia yang patut kita banggakan. Keragaman motif dan warna yang kita miliki menggambarkan betapa kayanya negri kita ini. Batik Toraja, Solo, Cirebon, Pekalongan, masing-masing memiliki ke-khasan tersendiri. Kalau anda punya waktu untuk melihat pembuatan sepotong kain batik, sempatkanlah untuk melihat bagaimana seorang pengrajin membuat batik. Dibutuhkan ketekunan, kesabaran, dan sentuhan personal untuk membuat helaian batik yang berkualitas tinggi.
Selain alasan kebanggaan, alasan lain yang membuat saya menggunakan kain batik adalah alasan ekonomi. Sebagai orang Indonesia, tentu kita bisa paham dan merasakan ketika perekonomian Indonesia sedang tidak stabil, kesenjangan sosial dimana-mana. Pernahkah anda berfikir bahwa apa yang kita konsumsi atau apa yang kita beli sehari-hari dapat menentukan nasib perputaran roda ekonomi bangsa ini? Mungkin pemikiran saya ini agak terlalu jauh ke depan. Tetapi, bagi saya pribadi, akan sangat menyenangkan jika saya dapat membantu industri batik lokal, begitupula dengan kelompok penjahit rumahan. Tidak ada pendongkrakan nilai jual dengan embel-embel label bermerk, bagi saya yang penting adalah masing-masing mendapatkan bagiannya dengan adil sehingga pembuatan sepotong baju batik pun menjadi sesuatu yang dilakukan dari hati. Bukan memeras keringat pengrajin, lantas ia tidak mendapatkan hak yang semestinya.
Begitulah jawaban yang bisa saya berikan untuk pertanyaan “Mengapa Batik?”. Mudah-mudahan tulisan saya ini bisa memberikan inspirasi dan menyadarkan kita bahwa kita masih punya sesuatu yang bisa dibanggakan dari Indonesia, yaitu batik.

