Mengapa Batik?

24 04 2010

Mengapa Batik?

Pertanyaan ini kerapkali diajukan pada saya oleh teman-teman terdekat yang baru saja mengetahui bahwa kini saya menjerumuskan diri ke dunia fashion yang mengangkat batik sebagai material utamanya. Batik bukanlah sesuatu yang baru saja kita kenal dalam industri pakaian. Usia kain batik sudah ratusan tahun bahkan lebih.

Namun lagi-lagi, mengapa ‘sekarang’ pakai batik? Kurang lebih dua tahun yang lalu, batik menjadi bagian dari trend busana Indonesia. Batik telah berubah dari yang asalnya hanya digunakan sebagai pakaian resmi acara kenegaraan atau versi murahnya dikenakan oleh ibu-ibu untuk tidur, masak dan cuci piring di dapur; kini batik menjadi bagian dari mode. Beberapa desainer Indonesiapun mencoba mengolah batik menjadi pakaian yang ‘in’. Mereka mengolah batik untuk tidak hanya sekedar dijadikan kain sarung untuk dipadukan dengan kebaya, tetapi batik pun bisa menjadi baju atasan, rok, celana pendek, dan banyak variasi-variasi lainnya. Desainer-desainer ini telah membuat batik jadi terlihat sangat cantik, tetapi juga menjadi sesuatu yang ‘mahal’. Sepotong terusan rok batik, harganya bisa mencapai ratusan ribu bahkan jutaan rupiah. Mengapa harganya begitu mahal? Tentu saja ketika sehelai kain sudah berada di tangan seorang desainer, nilai jualnya menjadi tinggi. Kita tidak pernah tau berapa pendapatan pengrajin batik dari sehelai kain yang dijual jutaan rupiah di mall-mall besar atau di butik-butik mahal. Kita pun sulit untuk menebak apakah batik yang dijual tersebut benar-benar produk Indonesia, atau jangan-jangan batik itu buatan negara lain!

Bagi orang-orang awam, terkadang sulit menemukan perbedaan antara batik yang murah dan yang mahal. Ah, sepertinya sama saja, tergantung yang memakainya. Yang benar adalah, pertama, mahal dan murahnya batik ditentukan dari bahan yang dijadikan dasar dari pembuatan batik itu sendiri. Apakah kain itu terbuat dari bahan dasar sutra, katun, tenun, dan masih banyak lagi. Kedua, teknik pembuatan batik pun menjadi faktor yang menentukan harga batik tersebut. Apakah itu batik tulis, kombinasi tulis dan cap, cap, ataupun print. Jelas, tingkat kesulitan pembuatan batik tulis dan print tentu berbeda. Semakin sulit pembuatan sepotong kain batik, tentu semakin mahal harganya.

Nah sekarang kembali lagi..mengapa batik? Bagi saya, batik adalah karya seni Indonesia yang patut kita banggakan. Keragaman motif dan warna yang kita miliki menggambarkan betapa kayanya negri kita ini. Batik Toraja, Solo, Cirebon, Pekalongan, masing-masing memiliki ke-khasan tersendiri. Kalau anda punya waktu untuk melihat pembuatan sepotong kain batik, sempatkanlah untuk melihat bagaimana seorang pengrajin membuat batik. Dibutuhkan ketekunan, kesabaran, dan sentuhan personal untuk membuat helaian batik yang berkualitas tinggi.

Selain alasan kebanggaan, alasan lain yang membuat saya menggunakan kain batik adalah alasan ekonomi. Sebagai orang Indonesia, tentu kita bisa paham dan merasakan ketika perekonomian Indonesia sedang tidak stabil, kesenjangan sosial dimana-mana. Pernahkah anda berfikir bahwa apa yang kita konsumsi atau apa yang kita beli sehari-hari dapat menentukan nasib perputaran roda ekonomi bangsa ini? Mungkin pemikiran saya ini agak terlalu jauh ke depan. Tetapi, bagi saya pribadi, akan sangat menyenangkan jika saya dapat membantu industri batik lokal, begitupula dengan kelompok penjahit rumahan. Tidak ada pendongkrakan nilai jual dengan embel-embel label bermerk, bagi saya yang penting adalah masing-masing mendapatkan bagiannya dengan adil sehingga pembuatan sepotong baju batik pun menjadi sesuatu yang dilakukan dari hati. Bukan memeras keringat pengrajin, lantas ia tidak mendapatkan hak yang semestinya.

Begitulah jawaban yang bisa saya berikan untuk pertanyaan “Mengapa Batik?”. Mudah-mudahan tulisan saya ini bisa memberikan inspirasi dan menyadarkan kita bahwa kita masih punya sesuatu yang bisa dibanggakan dari Indonesia, yaitu batik.





Masa + Energi = Mahasiswa?

19 08 2008

Masa-masa transisi dari seorang siswa menjadi mahasiswa adalah masa yang penuh kejutan sekaligus menegangkan karena menghadapkan kita pada berbagai perbedaan. Dari namanya saja jelas sudah berbeda, segala sesuatu yang berimbuhan kata maha maka menjadi sesuatu yang ‘lebih tinggi’ dan ‘lebih terhormat’. Disebut lebih tinggi karena dari jenjang pendidikan, seseorang yang disebut mahasiswa maka sudah pasti duduk di sebuah universitas. Begitupun disebut lebih terhormat karena tidak semua siswa memiliki kesempatan untuk mengganti gelarnya menjadi seseorang yang maha. Tentu, untuk mencapai yang lebih-lebih tersebut (lebih tinggi, lebih terhormat, lebih pintar, lebih gaya, lebih bebas, dll), seorang siswa hendaknya membutuhkan usaha untuk mempertahankan gelar maha-nya.

Pengalaman setiap mahasiswa yang saya temui di berbagai universitas, termasuk di UNPAR pun berbeda-beda. Ada yang sejak awal merasa kesulitan untuk beradaptasi dengan gelar maha-nya tersebut, ada pula yang santai-santai saja tapi mereka bisa bertahan menjadi mahasiswa yang baik bahkan yang terbaik. Banyak hal menarik juga yang saya sendiri temukan sejak masa OSPEK maupun pasca OSPEK. Tidak sedikit mahasiswa yang semangat pada waktu OSPEK lantas hilang pada semester berikutnya, menjadi korban dropped out atau megundurkan diri. Ataupun sebaliknya, mahasiswa yang tidak mengikuti OSPEK tapi lantas setahun kemudian sibuk menjadi anggota himpunan dan aktif di kampus. Adapun mahasiswa yang sama sekali acuh dengan kegiatan kampus, tetapi pada akhirnya ia lulus dengan predikat magna cum laude. Lantas, saya pun jadi bertanya-tanya bagaimanakah figur ideal seorang mahasiswa? Yang lebih jago beradaptasi dengan lingkungan kampus atau yang lebih jago menjawab pertanyaan yang diajukan oleh dosen pada waktu UAS?

Butuh waktu panjang untuk menemukan jawabannya. Pertama, ada beberapa standard yang harus dipenuhi oleh seorang mahasiswa. Yaitu, mahasiswa harus memaksimalkan kemampuan calistung (baca, tulis, dan hitung). Yang beda dari calistung mahasiswa dengan calistung siswa SD adalah seorang mahasiswa setidaknya harus membaca empat puluh halaman buku per minggu, menghasilkan tulisan-tulisan akademik yang berkualitas, dan mahasiswa bertindak berdasarkan perhitungan yang rasional. Ketiga hal tersebut akan sangat mempengaruhi performa mahasiswa di kelas. Kedua, mahasiswa dituntut untuk kritis dan mampu berargumen. Hal ini berlaku untuk semua mahasiswa, bukan hanya untuk mahasiswa FISIP atau Fakultas Hukum. Terkadang kita masih terlena dengan budaya text-book jaman SMA, tapi sayang sekali hal itu tidak akan berguna di universitas. Mahasiswa diharapkan mau untuk menjadikan koran dan media lainnya sebagai suplemen harian mereka. Terakhir, mahasiswa dituntut untuk aktif. Sebagian dari mahasiswa, ada yang pernah menjabat sebagai aktifis sekolah waktu di SMA nya dulu dan ingin pensiun di masa kuliah. Sangat disayangkan, kesempatan untuk meraih apapun jauh lebih terbuka di tingkat universitas. Baik itu beasiswa, konferensi-konferensi, kerja praktek, semuanya akan sangat menguntungkan apabila mahasiswa mau memanfaatkan kesempatan itu.

Hal-hal (tuntutan,red.) yang saya sebutkan sebelumnya memang sekilas terdengar sulit tapi menyenangkan terutama untuk para mahasiswa baru. Tapi ternyata untuk memenuhi standard tersebut, mahasiswa pun harus menghadapi banyak tantangan. Yang paling mendasar adalah rasa malas. Seringkali rasa malas ini muncul karena warisan jaman SMA, atau mungkin bawaan orok. Saya menemukan sedikit dari teman-teman saya di HI yang memang pemalas, jumlahnya tidak banyak. Kembali lagi pada niatnya, berniat untuk meraih gelar S1, maka harus mau berjuang melawan rasa malas! Mahasiswa punya energi! Saya yakin yang malas mana mungkin masuk UNPAR! 😛 Tantangan yang kedua adalah, godaan kerja part-time dan money oriented minded . Kuliah di waktu tertentu memang membosankan, dan sekilas yang ada di luar kampus lebih menarik apalagi yang menghasilkan uang. Pemikiran ini sangatlah wajar muncul di kalangan mahasiswa, tapi yang paling penting adalah tentukan prioritas, dan jangan sampai kehilangan arah! Tetapkan bahwa your job is as a college student and your side job is ….. bebas pilih. Yang ketiga, mahasiswa S1 atau D3 adalah mahasiswa yang masih membentuk jati diri. Saya lebih suka menyebut mahasiswa sebagai ‘manusia setengah jadi’. Mahasiswa adalah manusia yang masih lentur. Sehingga pembentukan kepribadian seseorang akan lebih ditentukan dalam hubungan sosial di kampus dan luar kampus, bukan ketika menjalani masa ABG atau menjalani kehidupan di masa sekolah. Seorang mahasiswa yang berpendirian, adalah seseorang yang tidak mudah terbawa arus dan mampu menentukan arah hidupnya.

Mahasiswa mengemban tugas yang banyak dan tantangan yang berat. Mahasiswa adalah orang sibuk bak selebritis, yang memiliki segudang kegiatan. Tidak perlu menjadi seorang mahasiswa yang ideal, tapi jadilah mahasiswa yang sukses. Seorang mahasiswa yang sukses tau bagaimana cara menikmati setiap masa, dan tau kemana harus memanfaatkan energinya!

Cherika Novianti untuk majalah Highlights terbitan UNPAR – Agustus 2008





Selebriti = Politisi?

2 06 2008

Menyambung tulisan Andika,

Selebritis menjadi politisi. Politisi menjadi selebritis.
Keduanya membutuhkan popularitas dan citra.
Coba liat kompas 1 Juni 2008.
Ada satu tulisan menarik mengenai ‘pencitraan tanpa isi’. Kalau di kompas edisi cetaknya, disebutkan secara detail seperti Yusril Izha Mahendra yang brand-minded banget. He’s a big fan of Prada and Hugo Boss suits. Ada juga nama Ade Nasution yang turut dengan bangga menambahkan juga bahwa ia penggemar mobil2 Eropa, sudah memiliki BMW seri 7 di umur 26. Konon katanya politisi butuh citra dari barang-barang ‘lux’, sama halnya dengan selebriti. Kadang saya tertawa nonton infotainment melihat seorang pemain sinetron belasan tahun sudah bisa beli Alphard pake duit sendiri. Kesan yg ditampilkan kok kayanya cari duit gampang banget ya buat mereka? Kini saya tertawa lagi melihat pemberitaan di Kompas.. kok sempet yaa para politisi kita itu memikirkan penampilan disaat keadaan negara lagi kacau bgini? Dengan penampilan yang ‘lux’ itu, bukannya justru memunculkan pertanyaan dan kecurigaan dari masyarakat? bukannya citra mereka pun justru menjadi terancam? Yang lebih menghebohkannya lagi, Ade Nasution sedang merencanakan untuk menyutradarai sebuah proyek film besar yang tujuannya adalah untuk mendongkrak popularitasnya selain di dunia politik juga entertainment. Film ini akan dibintangi oleh Nova Eliza, mantan pemain sepakbola Chelsea dan salah satu pemain dalam serial Heroes (yang tentunya dibayar dengan ribuan dollar). Dan gilanya lagi, film ini akan mengambil lokasi syuting di Prancis, AS, dan Indonesia. Satu kemajuan untuk dunia industri film nasional. Tapi, bagaimana dengan dunia perpolitikan kita? Bisakah para politisi kita fokus dengan tugas mereka disaat mereka harus menjalankan peran kedua sebagai ‘selebritis’?





Menyikapi Feminisme Di Era Pasca Kartini

24 04 2008

Feminisme adalah sebuah paham yang menentang budaya maupun kebijakan politik yang tidak menguntungkan kaum perempuan. Paham ini lantas berkembang menjadi sebuah gerakan di negara-negara barat pada sekitar tahun 1970an. Pada masa itu, segelintir kaum perempuan yang diklaim sebagai feminis, berjuang untuk memperoleh hak-nya sebagai warga negara. Salah satu hal yang ditekankan dari gerakan feminis ini adalah perempuan ingin mendapatkan akses untuk pekerjaan yang layak, perempuan ingin mendapatkan akses pendidikan, dan perempuan ingin mendapatkan hak-nya untuk berpolitik. Singkatnya, perempuan menuntut hak yang sama dengan yang kaum laki-laki dapatkan. Perjuangan inipun terus berjalan, seiring dengan berkembangnya gerakan perempuan di berbagai negara, termasuk di negara-negara Asia.

Di Indonesia sendiri, paham feminisme berkembang cukup pesat. Lagi-lagi hanya segelintir perempuan yang melibatkan diri untuk menjadi bagian dari gerakan tersebut. Sehingga sering muncul pertanyaan: “Mengapa hanya segelintir perempuan saja yang feminis?” Lalu berkembang menjadi pertanyaan “Mengapa seorang perempuan bisa menjadi feminis?”. Pertanyaan ini akan dijawab sederhana saja. Tidak semua perempuan paham akan makna feminisme yang sesungguhnya. Pertama, karena perempuan masa kini tidak lahir di era dimana perempuan-perempuan benar-benar dijadikan mahluk subordinat di dalam kehidupan masyarakat. Perempuan kini tidak perlu merasakan apa yang dirasakan Kartini seperti ‘dipingit’, dirampas hak pendidikannya, walaupun sebagian kecil masih ada masyarakat yang menerapkan budaya ini. Kedua, perempuan yang kini mengklaim dirinya sebagai feminis lahir melalui sebuah kontemplasi pikiran perempuan dengan pengalaman. Pemikiran ini sangat dipengaruhi oleh buku-buku studi literatur feminisme, dan juga buku-buku yang mengangkat pengalaman perempuan yang tertindas oleh budaya patriarki. Tidak menutup kemungkinan juga bahwa kontemplasi pikiran dan pengalaman perempuan tidak menghasilkan suatu interpretasi yang sama. Sehingga, seringkali paham feminisme berkembang menjadi paham-paham yang lain seperti; feminisme radikal, feminisme Marxist, feminisme lesbian dan lain-lain.

Paham yang hanya dipahami segelintir perempuan ini tentu mengundang banyak kritik, tidak hanya dari kaum laki-laki saja tetapi juga dari sesama kaum perempuan. Feminisme seringkali dianggap sebagai paham yang justru melemahkan posisi perempuan, karena seolah-olah perempuan menuntut sesuatu yang ‘lebih’ dan ‘spesial’. Padahal, jika ditelusuri kembali pada akar tujuannya, gerakan feminisme menuntut equal right bukan special right. Pengkritik feminisme juga melontarkan kritik keras “Setelah emansipasi. Kini apalagi?”. Gerakan feminisme kini seringkali dipandang ‘keluar jalur’. Kebebasan feminis sudah kebablasan. Feminis menuntut hak untuk aborsi, hak untuk memiliki pasangan sesama jenis, dan lain sebagainya. Dan hal inilah yang juga membuat gap antara perempuan feminis dengan perempuan yang bukan feminis. Feminis yang semestinya menyentuh kaum perempuan, justru malah menjadi musuh untuk kaumnya sendiri. Gap ini juga terbentuk karena tidak adanya komunikasi yang terjalin dengan baik antara perempuan yang feminis dengan perempuan yang tidak feminis. Sehingga, seringkali pula sekelompok perempuan feminis dicap eksklusif dan hanya bisa bergaul dengan sesama teman kelompoknya.

Perlu kita sadari bahwa tidak semua perempuan memiliki pendapat yang sama tentang bagaimana kaumnya harus hidup di tengah masyarakat. Kini sebagian besar perempuan modern sudah dapat menikmati akses yang begitu luas dalam bidang pendidikan, pekerjaan, dan pemerintahan. Yang ratusan tahun diperjuangkan feminis, yaitu equal right sudah ada di tangan perempuan-perempuan modern. Lantas, yang menjadi permasalahan saat ini adalah, bagaimana hak yang sudah ada di tangan itu bisa dimanfaatkan secara maksimal? Peran pendidikan sangatlah penting. Perempuan kini dapat bersekolah hingga lulus sarjana maupun master. Tapi, pendidikan saja ternyata tidak cukup. Disini peran feminis pun dibutuhkan untuk menjadi motivator dan juga pendorong kaumnya. Feminis dibutuhkan untuk memberi pengarahan kepada perempuan, supaya perempuan mampu memaksimalkan ilmu yang dimilikinya, tidak hanya lantas ilmunya terbuang percuma. Dengan demikian, sedikit demi sedikit perempuan pun bisa mulai meningkatkan daya saingnya di era yang membutuhkan perempuan untuk lebih struggle daripada di era Kartini.

Di era Kartini perempuan berjuang untuk menghilangkan struktur sosial yang menempatkan perempuan pada posisi lebih bawah, dan berjuang demi mendapatkan haknya. Kini di era globalisasi, di satu sisi globalisasi ini membuka akses yang luas untuk perempuan dalam berbagai bidang. Di sisi lain, globalisasi memberikan beban yang lebih berat bagi perempuan karena perempuan harus mampu meningkatkan kualitas dirinya demi meningkatkan kualitas hidupnya. Beruntunglah perempuan-perempuan yang dapat menikmati pendidikan yang layak di perkotaan. Sedangkan, bagi perempuan menengah ke bawah, kebijakan neoliberalis mengharuskan perempuan untuk bekerja lebih keras. Pengurangan peran negara dan berkurangnya subsidi dari pemerintah untuk masyarakat menengah kebawah membuat kaum feminispun menentang kebijakan-kebijakan neolib. Lagi-lagi peran feminispun cukup penting di dalam memberikan masukan-masukan baik untuk pemerintah maupun untuk kaum perempuan sendiri.

Mengingat kembali quote yang ditulis Kartini untuk Nyonya Van Kool di bulan Agustus 1901, “Alangkah besar bedanya bagi masyarakat Indonesia bila kaum perempuan dididik baik-baik. Dan untuk keperluan perempuan itu sendiri, berharaplah kami dengan harapan yang sangat supaya disediakan pelajaran dan pendidikan, karena inilah yang akan membawa bahagia baginya”. Pendidikan adalah kunci dari kesejahteraan perempuan Indonesia, dan feminisme dapat dijadikan sebagai alat pendukung perempuan Indonesia untuk maju demi kaumnya dan bangsanya.





An interview about Poverty in Southeast Asia

19 04 2008

I’m currently making a research about poverty in the Southeast Asia. This is a complex problem which hasn’t been solved since the 1990s. In the 1997 the Asian Financial Crisis appeared in the Southeast Asia and in the East Asia. East Asia has easily recovered its economy by boosting its industry and technological products. On the other hand, the weak economy basis created a more dramatic poverty of the majority countries in Southeast Asia. For making a deeper research for this issue, i took an interview with Ms. Femmy Soemantri from the Natural Resources Unit of the ASEAN.

1. Historically, ASEAN was established for the political reason, rather than economy. But for today, does ASEAN need a bigger role in economy?

Yes, definitely. ASEAN needs to have a bigger role in generating the economies of its Member Countries. In fact, nowadays ASEAN has gradually changed its nature of organization to becoming more as a regional economic grouping with a vision to pursue an economic integration by 2015.

2. What efforts have ASEAN made to stabilize the economic of the region post the Asian Financial Crisis 1997?

Through various sectoral cooperation among Member Countries and with the international community i.e. dialogue partners and international organization, ASEAN has done many initiatives in re-stabilizing the regional economy.

3. Has the economic instrument (such as AFTA) of ASEAN effectively worked so far?

To begin with, ASEAN has now already established Free Trade Area agreement within ASEAN and with other regions or dialogue partners. Some have already been implemented, while some of them are still on going negotiation and many are coming.

Regarding the effectiveness of the agreements, we are not in a position to say it has been implemented maximally. To implement or make any agreement becomes operational, it takes a lot of other variables than the finalization of the agreement itself. Politics, economics, systems, governances, or even social and other related things are among the issues to be taken into consideration on applying the FTA agreement.

For more information on FTA and AFTA, please see http://www.aseansec.org/4920.htm

4. If it’s already effective, why are the majority countries in ASEAN couldn’t have independent economy? If it’s not yet effective, why is the cause and what solution does ASEAN offer?

Please refer to answer no. 3 for your question on effectiveness.

Regarding the issue of economic independency among ASEAN Member Countries, there still exists economic and development gap between the Member Countries, especially for the newest Member Countries i.e. Cambodia, Lao PDR, Myanmar, Viet Nam. ASEAN has been trying to address the gap by the initiatives of NDG (Narrowing Development Gap) under IAI initiatives.

For more information on IAI, please see http://www.aseansec.org/14013.htm

5. Post 1997 crisis, many of the ASEAN countries face the poverty problem. What has ASEAN done to deal with this specific problem?

Through ASEAN Cooperation on Social Recovery under the purview of Rural Development and Poverty Eradication Sector, ASEAN has done many initiatives to address the respective issue.

For more information, please see http://www.aseansec.org/4954.htm

6. About the regional cooperation, does ASEAN have any specific policy in order to reduce the poverty problem in Southeast Asia?

You may wish to refer to answer no. 5 and see the mentioned link of website.

7. What sort of cooperation have ASEAN done with another organizations in order to reduce poverty?

You may wish to refer to answer no. 5 and see the mentioned link of website.

In addition, as additional reference, you may also see the list of projects conducted in ASEAN through http://www.aseansec.org/asean_project.htm

8.The majority of ASEAN countries are developing countries. They have to deal with social problems and non traditional security issues. How can ASEAN deal with those problems?

The ASEAN Community rests on three pillars: the Economic Community, Socio-Cultural Community and Political and Security Community. These elements are the umbrellas and basic principles of ASEAN to address the challenge problems on social and non-traditional security issues.

Please see the attached ASEAN Brief 2007 for progress of the realization of the three pillars. You will also find some statistical data and findings that might be related to your research.

9. Do you personally optimistic that ASEAN will successfully reduce the poverty in Southeast Asia?

Yes, definitely optimistic on the ASEAN’s role on poverty reduction in the region, because it is congruent with the aims and purposes of ASEAN.

Through the vision on becoming one community of ASEAN, the aims and purposes of the Association are: (1) to accelerate economic growth, social progress and cultural development in the region and (2) to promote regional peace and stability through abiding respect for justice and the rule of law in the relationship among countries in the region and adherence to the principles of the United Nations Charter.

For general information and overview of ASEAN, please refer to http://www.aseansec.org/64.htm

Thank’s for Ms. Femmy Soemantri who has been very helpful for me and my research.





Prince Harry is Back For Good

1 03 2008

ap_prince_harry_080228_ms.jpgPrince Harry 138jpg.giftni.jpg

NYTimes today publishes pictures of Prince Harry in the battlefield of Afghanistan. The pictures are published at the time when Harry has been withdrew and back to his home sweet home. Prince Harry has been at the Helmand Province since December. His duty is in the battlefield air controller. I’m quite surprised to see all those pictures, showing that Harry was in action, wearing his uniform and all the equipments and weapons, talking to another army, playing soccer. This is however, raising a big question. How can the Kingdom’s generation be this down-to-earth? Where is all the exclusiveness and the arrogance of the Kingdom?

This case has rung a bell. A year ago, the son of Indonesia’s President was also sent to the battlefield. He was on his duty for the UN mission. Agus Yudhoyono went to Lebanon as the part of Indonesian Army. The media exposed that Agus would not be treated with any special treatment. Everyone in the battlefield should face the same situation and should be treated as the same persons. His big duty there is to establish the DMZ, avoid confrontation, monitor and investigate every movements there.

The common thing from these two stories is that the media couldn’t report the day-by-day activities of those kids. In fact, the news reporter would not willing to risk his life for this sort of issue. The news media is more focus on the war, the interest, the actor, better than who is on the war at that time. The news journalists are of course different with the infotainment journalists who are always be ready to sacrifice their lives for the famous star hottest news’ sake. Even though they’re now very interested to follow every single movement of the new star, Barrack Obama.

Anyway, back to the issue. This news has made me curious. Can those two kids really survive in a dangerous battlefield without any guardian angels around them? If so, then why do they always need special treatment and bodyguards following them inside of their own country? What should they be afraid of?





Should politicians care about how to dress up?

27 02 2008

obama_osama.jpgobama in his turban

Hot news is on the desk today. My producer ask me to read it out and announce it to my listeners. The news is about Obama, again, as usual. It says that Obama dressed up with the Somalian traditional dress. The most interesting part of his cloth is the material he wore on his heads. It looks like turban that is wore by Osama bin Laden. Turban does not identify moslem, it’s just a cultural tradition cloth wear by most male moslem in the Arabic countries. Turban is different with veil or hijjab which is ‘a must wear item’ for female moslem all around the world. Even though there are also some controversies about veil/hijjab, i think most of us understand about its function. It’s just to cover the hair, which moslem think that it should be covered because it’s important for us (as female) to keep our body closed from head to toe covered by cloth except the face and the hand.

2008 is the Omentum, according to The Encyclopedia Barracktanica, it’s the moment of Barrack Obama. Every single part of his life will be interesting for his fans and for his rival of course. Many pictures since the baby Obama born until he got his Omentum is published everywhere. However, the picture of Obama and his turban has made his rival happy, of course. She claimed that it was the most embarassing picture in the election moment!

I think every politicians should be careful about how they look, how they pick a cloth. It will not only affect to his political image, but it will also give a chance for his rival to use it as their ‘weapon’ to attack the image that has been built before. Moreover, the media is also crazy for this sort of issue. Just look at what CNN has done to Obama!